Jengki: Mahkota Para Juragan

Oleh Yusni Aziz

 

Di dalam literatur sejarah arsitektur Indonesia, kita dapat mengenal karya Silaban. Kita juga bisa mempelajari bangunan rancangan Suyudi. Tetapi seberapa sering kita menemukan informasi mendalam tentang arsitektur Jengki?

Tidak banyak. Iklim penulisan sejarah yang lebih terfokus pada sosok, daripada arsitektur itu sendiri, bisa menjadi salah satu penyebab utamanya. Jengki adalah arsitektur yang anonim. Tidak ada tokoh terkenal di balik beragam eksistensinya. Namun hanya dalam kurun waktu 1950-1960an, gaya Jengki menjamur hingga ke seluruh Indonesia. Diketahui hingga saat ini, kehadirannya sudah ditemukan di 13 propinsi dan 23 kota. Angka ini juga masih dapat terus berkembang.

Hal itu yang kemudian menarik perhatian tim peneliti Jengki Madura. Rembuk! dan beberapa tamu dari luar berkesempatan untuk mendengar langsung dari mereka dalam “Kentjan” di malam minggu, 12 November 2016. Ayos Purwoaji, Muhammad Darman, Faiq Nur Fikri dan Muhammad Cahyo datang sebagai perwakilan tim. Mereka membeberkan temuannya di studio LabTanya, ditemani satu kotak martabak, terang bulan dan teh manis hangat.

“Dalam konteks tembakau, kondisi rasa dan kualitas tembakau dipengaruhi oleh dimana tanah dia tumbuh. Begitu pula dengan kopi. Dan begitu pula dengan arsitektur. Suatu gaya dipengaruhi oleh kondisi sosio-antropologi tertentu”, tutur Ayos, sang kurator pameran. Ia berpendapat sudah saatnya penelitian arsitektur tidak hanya terfokus pada tipologi bentuk, tetapi juga ke konteks yang melahirkannya.

Latar belakang yang kuat juga menjadi alasan mereka untuk melakukan residensi dua minggu di dua desa terpencil, dekat pesisir pantai selatan Madura. Desa Prenduan dan Kapedi adalah dua desa yang terguyur imbas positif puncak kejayaan tembakau di tahun 1960-1970an. Paska kemerdekaan, pabrik rokok dan kretek banyak muncul di kota-kota besar. Mereka butuh tembakau Madura sebagai bahan baku. Karena tingginya omzet dagang, para juragan tembakau akhirnya menjadi OKB (Orang Kaya Baru) yang nanti akan mengubah wajah desa tersebut.

gw-2-of-3
Haji Hasan Basrie, juragan tembakau desa Prenduan, berpose di atas mobil mewahnya. ©Tim Jengki Madura

Untuk kehidupan pedesaan, gaya hidup para juragan saat itu sudah jauh lebih glamor daripada sejawatnya. Mereka beli mobil mewah, memakai jas, dan sering mengadakan hajatan yang mengundang ratusan orang. Dengan arsitektur, mereka membangun rumah Jengki yang megah dan penuh dekorasi, untuk menunjukkan eksistensinya.

“Itu adalah hal yang menarik. Arsitektur adalah satu bagian budaya material masyarakat. Bagian dari material culture. Selain mobil, pakaian, dan sebagainya”, lanjut Ayos.

Di Prenduan dan Kapedi, ada sepuluh rumah Jengki yang dibangun. Dari semuanya, tim peneliti hanya mendapat ijin untuk mendokumentasikan tiga bangunan. Rumah Haji Fathorahman di Prenduan; rumah Haji Fathollah dan rumah Haji Samsul Arifien di Kapedi. “Rata-rata rumahnya sudah ditinggali oleh generasi kedua”, ujar Darman, peneliti Jengki Madura.

Di kalangan pedagang tembakau Sumenep, gaya Jengki diduga mulai populer pada pertengahan 1970-an. Di kota-kota besar, ia sudah lebih dulu mewabah di era 1950-1960an. Bagaimana awal mulanya itu terjadi?

Cahyo dan Anas Hidayat menuliskan dalam “Ada Jengki Di Sumenep”, bahwa tren Jengki muncul dari kondisi vacuum of power. Saat itu banyak arsitek Belanda kembali ke negaranya paska kemerdekaan, sementara arsitek Indonesia masih sangat sedikit. Aannemer (pemborong kecil) yang umumnya lulusan STM kemudian mengambil alih. Josef Prijotomo di “When West Meets East”, juga menjabarkan banyak lulusan jurusan arsitektur ITB dan perusahaan konstruksi membantu penyebaran gaya jengki kala itu.

Semangat anti-kemapanan dan anti-Belanda yang mendominasi saat itu, melahirkan bentuk-bentuk yang “ganjil”. Memberontak dari standar yang ada sebelumnya. Atap pelana asimetris, jendela dan kolom miring, teras yang meruncing ke depan, dan sebagainya; muncul dan menyebar. Sampai akhirnya Jengki tersapu oleh gelombang International Style yang datang di periode 1970-an.

Di antara kota besar, jejak Jengki para juragan dapat dilacak sampai ke kota Kudus. Tim peneliti menemukan bahwa dulu mereka membina hubungan kerja yang kuat dengan pabrik rokok di kota itu. Para pemilik pabrik yang banyak menggunakan Jengki untuk kediamannya menginspirasi mereka untuk berlaku serupa. Haji Rasul, tokoh setempat, akhirnya diajak untuk melihat dan mengadaptasinya untuk rumah-rumah di Kapedi. Di Prenduan, Haji Fathorahman bahkan mendesain rumahnya sendiri.

“Di masyarakat, ada rasionalitas sendiri untuk menerjemahkan jengki”, ujar Cahyo, manajer eksekutif dari Jengki Madura.

“Mungkin saja dia bisa menjadi gerakan anarkisme, bukan sekadar tipologi”.

“Sebuah arsitektur kelasi. Kaptennya sedang pingsan, kelasi mengambil kemudi”, tambahnya.

Karena luasnya ruang kreasi itu, Jengki Madura akhirnya melebur dengan lokalitas setempat. “Meski tampilan luar sangat modern, pola ruang di dalam rumah sangat dekat dengan Tanean Lanjeng. Hunian tradisional Madura”, komentar Darman.

Permukiman Tanean Lanjeng memiliki beberapa unit bangunan yang terpencar di dalam satu lahan luas. Ruang utama berupa kamar tidur, yang biasanya memiliki pendopo di seberangnya. Kamar tidur pertama dibangun di sisi barat, dan setelah punya anak perempuan, maka orang tua berkewajiban untuk membangun kamar baru dengan pendopo di sisi timurnya. Hal ini dilakukan terus menerus, sehingga ruang tidur berdempet memanjang ke arah barat-timur. Area terbuka di tengah digunakan untuk berkumpul dan area makan. Kegiatan tersebut tidak membutuhkan unit bangunan khusus. Dapur terletak di bangunan yang lain, dan disembunyikan di sisi belakang.

gw-1-of-3
Permukiman Tanean Lanjeng. Barisan bangunan sebelah kanan digunakan sebagai kamar tidur. Sebelah kiri adalah pendopo untuk menerima tamu. ©Tim Jengki Madura

Darman menemukan pola serupa di Jengki Madura. Organisasi ruang berbentuk memanjang, dengan kamar yang diletakkan berdempetan satu sama lain. Area servis juga disembunyikan di bagian belakang. Beberapa rumah juragan bahkan hanya punya dapur, tetapi tidak punya ruang makan.

Kehidupan desa yang komunal juga memahat karakter ruang Jengki Madura. Faiq, anggota tim peneliti, bercerita bahwa masyarakat Madura sangat terbuka satu sama lain, dan sering mengadakan hajatan besar. Untuk Maulid Nabi, mereka bahkan bisa mengundang ratusan orang. Karena pertimbangan ini, umumnya Jengki juragan dibangun di atas lahan yang luas. Ukuran dapur juga besar, dan terletak dekat halaman. Sehingga di waktu ada hajatan, aktivitas menyiapkan makanan untuk tamu bisa meluber keluar.

Meski terlalu mewah untuk lingkungannya, rumah juragan tidak berdiri secara eksklusif. Acara pemberangkatan haji dan pernikahan warga sering diadakan di sana. Kala itu, rumah juragan menjadi ruang komunal warga desa. Mereka membentuk memori bersama.

Pada akhirnya, tim peneliti berharap inisiatif ini dapat menjadi katalis di kota-kota lain. Mereka berencana untuk mengadakan penelitian lanjutan di beberapa daerah, sambil melibatkan pegiat dokumentasi di area tersebut. Tidak hanya akan melibatkan mereka yang berlatar belakang arsitektur, tetapi peneliti muda lintas disiplin untuk memperkaya pembacaan.

Tentu fokus penggalian tidak hanya kepada gaya dan bentuk, tetapi juga kedalaman konteks. “Karena ketika mencoba membaca Jengki dalam narasi tunggal, pasti gagal pembacaanya”, ucap Cahyo.

“Di Jakarta, pendorong dari Jengki adalah perumahan. Kalau Malang, itu tebu. Di Kopeng dan Salatiga adalah rumah peristirahatan. Sampit itu rumahnya hakim. Dan di Madura adalah tembakau”, lanjutnya. Mereka yakin konteks lokal telah memberi ciri tersendiri bagi Jengki di tiap daerah.

Ayos sendiri ingin usaha pendokumentasian dan pengarsipan arsitektur ini tidak menjadi barang mewah di kemudian hari. Menurutnya hal itu disebabkan masih belum banyak yang melakukannya. Dan jikapun ada, hasilnya belum dapat diakses secara luas.

“Karena itu hasil kami, meski jauh dari kata lengkap, dapat diakses secara digital dengan lisensi creative commons”, tegasnya. Ayos percaya, jika hal tersebut dilakukan, langkah mereka akan memberi sumbangsih pada keprofesian dan disiplin keilmuan arsitektur Indonesia.

gw-3-of-3
Tim Jengki Madura bersama peserta Kentjan di LabTanya. ©Rembuk!

 


Untuk informasi lebih lanjut mengenai Jengki Madura dapat menuju: http://www.jengkimadura.net

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s